Wednesday, January 9, 2019

GAJAH LUMANTUNG


Sinopsis
LALAKON GAJAH LUMANTUNG

Gajah Lumantung adalah raja di negara Pasir Batang Lembur Tengah. Ia mempunyai adik seorang putri bernama Nyai Nimbang Manik yang telah bersuami, nama suaminya Sangiang Guru Gantang.
Ketika itu yang menjadi raja di negara Majapahit adalah Singa Komala. Ia mempunyai adik perempuan bernama: Nyai Sekar Kombala. Raja Majapahit bermaksud untuk merebut negara Pasir Batang Lembur Tengah.
Nyai Sekar Kombala ketika diberi tahu oleh Singa Kombala bahwa ia berniat akan merebut kerajaan Pasir Batang, dinasehati agar niatnya itu dibatalkan saja, sebab Pasir Batang Lembur Tengah sudah mempunyai raja yang bernama Gajah Lumantung. Nasihat adiknya itu tidak didengarkan oleh Singa Kombala.
Dipanggilnya-lah hulubalang yang bernama Badak Sangora dan menitahkan agar membuat jalan dari Majapahit ke Pasir Batang Lembur Tengah. Badak Sangora memanggil Lengser untuk mengumpulkan para prajurit dan rakyat Majapahit. Setelah berkumpul diperintahkannya untuk membuat jalan ke negara Pasir Batang Lembur Tengah.
Jalan itu selesai dalam satu hari. Singa Kombala beserta istri dan adiknya yang bernama Sekar Kombala pergi ke negara Pasir Batang Lembur Tengah, diiringkan oleh Badak Sanggora beserta seisi keraton. Singa Kombala menunggangi kuda putih bernama Sangbarani, anak Si Mega Lanang, dan Badak Sangora menunggangi kuda berbulu burik, sedangkan Sekar Kombala dan istri Singa Kombala menunggangi kereta. Setelah sampai di pinggir negara Pasir Batang Lembur Tengah mereka mendirikan pasanggrahan.
Gajah Lumantung mendengar kabar bahwa Singa Kombala sudah membuat pasanggrahan untuk kemudian merampas negara Pasir Batang Lembur Tengah. Adik Gajah Lumantung yang bernama Nyai Nimbang Manik menyarankan agar mereka melarikan diri saja, sebab raja Majapahit itu terkenal sakti. Gajah Lumantung marah, karena ia tidak sudi melarikan diri. Nyai Nimbang Manik diciptanya menjadi kecil sekali hanya sebesar kacang tanah, lalu dimasukannya ke dalam cupu manik, disimpan dalam gendongannya.
Bersama Prabu Guru Gantang yang bersedia menyertainya berperang melawan Singa Kombala, berangkatlah Gajah Lumantung ke medan perang dekat pasanggrahan Singa Kombala, lalu ditantangnya raja Majapahit berperang.
Singa Kombala menyuruh hulubalangnya Badak Sangora berperang dengan Gajah Lumantung. Badak Sangora kalah dan mati, dibunuh Gajah Lumantung. Prabu Singa Kombala turun ke medan perang, lalu berperang dengan Gajah Lumantung. Gajah Lumantung mati dibunuh oleh Singa Kombala, lalu Singa Kombala menantang Guru Gantang untuk maju ke medan perang.
Prabu Guru Gantang tidak berani berperang melawan Singa Kombala, karena ia tahu Singa Kombala lebih sakti dari dirinya. Lalu ditulislah surat kepada keponakan Gajah Lumantung yang bernama Taji Wiru Kuning raja di Haurduni yang beradik seorang putri bernama Ratu Manik. Surat itu berisi pemberitahuan tentang diserangnya negara Pasir Batang Lembur Tengah oleh raja Majapahit, dan diberitahukan pula tentang kematian Gajah Lumantung dalam peperangan karena dibunuh Singa Kombala. Dimintanya pertolongan, agar Taji Wiru Kuning mau membantu mengusir musuh dari negara Pasir Batang Lembur Tengah.
Setelah menerima dan membaca surat dari Prabu Guru Gantang, Taji Wiru Kuning berangkat ke negara Pasir Batang Lembur Tengah, langsung menuju ke medan perang, serta menantang Singa Kombala untuk berperang.
Dalam peperangan itu, Singa Kombala kalah dan mati dibunuh oleh Taji Wira Kuning. Adik Singa Kombala meminta kepada Taji Wira Kuning agar kakaknya Singa Kombala dan Badak Sangora dan semua yang mati dalam peperangan itu dihidupkan kembali. Permintaan itu dikabulkannya dan semua orang yang mati hidup kembali, berkat kesaktian Taji Wiru Kuning.
Akhirnya semua raja menyatakan takluk kepada Taji Wiru Kuning dan bersedia mengabdikan diri, selanjutnya Taji Wiru Kuning memerintah negara Pasir Batang Lembur Tengah membawahi negara-negara taklukannya.

Sumber ceritera
Ed J.J. Meyer,1891

DIWADALKEUN KA SILUMAN


Diwadalkeun ka Siluman
Sebuah kumpulan carita pondok (carpon)atau cerita pendek karya Ki Umbara. Diterbitkan di Bandung tahun 1965 dan tebalnya 80 halaman. Di dalamnya terkumpul empat buah cerita pendek yang sebelum dibukukan pernah dimuat dalam majalah Mangle. Keempat ceritera pendek itu ialah: Kasilib, Diwadalkeun ka Siluman, Mindahkeun Jurig dan Kiai Bantalwulung. Keempat cerita pendek itu mengisahkan peristiwa yang menyertakan mahluk halus (siluman). Cerita pendek Kasilib pernah mendapat hadiah II hadiah Sastra Mangle pada tahun 1968. di samping dalam kumpulan ini, cerita itu diantologikan pula dalam “sawelas Carita Pondok”
Cerita pendek Diwadalkeun ka Siluman (Dikorbankan kepada setan) direkam oleh ‘aku’ berdasarkan penuturan Imong dan istrinya, yang dalam usia lanjut dikenal dengan nama julukan Mang Merebot dan Bi Merebot, tentang peristiwa aneh yang dialami mereka.
Konon tersebut Babah Lintuh (gemuk) yang sangat kaya dari bertani ubi kayu dan sabrang. Ratusan hetar tanah disewa dari penduduk dengan cara bayar di muka sehingga mereka terbelenggu oleh utang kepada lintah darat itu. Tersebar secara bidik-bisik bahwa orang cina itu nyupang memuja mahluk halus ke Warudoyong. Tiap enam bulan ia harus mengorbankan jiwa. Yang dikorbankannya ialah paburunya (penjaga kebun), mati setelah tiba-tiba sakit.
Imong yang miskin melamar pekerjaan kepada Babah Lintuh itu. Ia segera diterima sebagai paburu karena Imong diketahui sebagai cucu Aki Malendra yang terkenal amat pekerjaan. Imong ditempatkan di hutan Bulak Panjang, perkebunan sabrang. Setelah bekerja beberapa lama, ia tiba-tiba sakit dan berusaha pulang. Penyakitnya makin lama makin berat, badannya panas dan ia mengigau, serta memperlihatkan gerakan-gerakan aneh.
Dalam keadaan gawat seperti itu, Waria datang tergopoh-gopoh memberitahukan bahwa ia baru saja melihat Imong diseret oleh tiga orang gulang-gulang (ponggawa) siluman, dinaikkan ke atas kuda belang (sebutan untuk kuda yang biasa menjadi tunggangan korban). Mendengar berita itu, istri Imong segera berlari hendak mencari gulang-gulang yang melarikan suaminya itu, tetapi tidak berhasil menemukannya.
Imong ternyata dibawa ke tempat pemujaan Warudoyong. Ia dituduh telah menerima rezeki lebih dan berutang kepada Babah Lintuh. Di sana ia dihadapkan kepada Demang Bincurangherang, raja siluman Warudoyong, dan kemudian dipenjarakan. Penjara itu sangat aneh, segalanya terbuat dari tubuh manusia dalam keadaan dipaku dan tersiksa secara mengerikan. Mereka itu semuanya adalah orang-orang yang dikenali oleh Imong. Selama berada dalam penjara itu, Imong melakukan salat dan menyebut Allah.
Demang Bincurangherang, yang membuka tempat pemujaan itu untuk membalas dendam kepda manusia, tidak lama kemudian mati. Ia diganti oleh putrinya yang bernama Nyimas Damarcaang. Putri ini adalah jin Islam karena sejak kecil ia dipelihara oleh kakeknya yang bernama Kaliwon Tamiang ropoh. Dalam pemeriksaan, Imong menerangkan makna nama putri jin itu serta menyatakan keteguhan kepada Allah. Akhirnya, Nyimas Damarcaang menyuruh semua rakyatnya beralih memeluk Islam, dan kemudian membubarkan tempat pemujaan Warudoyong. Setelah itu, Imong kembali ke jasadnya yang telah kurus kering karena menderita sakit yang demikian lama.

PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
1986


DEUGDEUG PATI JAYA PERANG


Sinopsis
CARITA DEUGDEUG PATI JAYA PERANG

Raden Bagawat Imeng Sonjaya adalah putra Prabu Siliwangi, raja di Pajajaran. Suatu malam ia bermimpi bertemu dengan putri cantik dari daerah timur. Ia meminta ijin kepada ayahnya untuk mengembara ke daerah timur mencari putri cantik yang terlihat dalam mimpinya.
Ayahandanya mengijinkan, dan berangkatlah Raden Begawat Imeng Sonjaya melalui jalan angkasa menuju daerah timur bersama pengiringnya yang bernama Kai Lengser.
Ia diterima oleh raja negara Rambut Pala yang bernama Raden Demang Jaya Mantri, serta dipertemukan dengan adiknya seorang putri yang cantik bernama Nyi Ameng Layar. Kebetulan putri itu serupa betul dengan putri impiannya, lalu dilamarnya dan diterima dengan senang hati.
Raden Begawat Imeng Sonjaya dinikahkan oleh Raden Demang Jaya Mantri kepada Nyi Ameng Layar.
Setelah menikah Raden Begawat Imeng Sonjaya meminta kepada Demang Jaya Mantri agar menantang perang kepada raja Galiota. Demang Jaya Mantri pergi ke negara Galiota dan berperang dengan rajanya, yang bernama Raden Braja Kilat. Demang Jaya Mantri menang dalam peperangan itu dan raden Braja Kilat menyerahkan negaranya beserta adiknya, seorang putri bernama Nyi Mas Karuntuyan.
Raden Begawat Imeng Sonjaya pindah ke negara Galiota, dan dinobatkan menjadi raja di Galiota, Nyi Mas Karuntuyan dijadikan istrinya.
Di negara Kuta Pamengkang Mega, rajanya bernama Raden Deugdeug Pati Jaya Perang. Suatu hari ia didatangi adiknya, seorang putri bernama Nyi Mas Inten Badaya. Adiknya itu mengatakan bahwa ia bermimpi melihat ikan paus bersisik emas di laut selatan, yang termasuk negara Galiota, dan seekor badak berbulu belang berekor emas di hutan negara Galiota.
Raden Deugdeug Pati Jaya Perang mengajak adiknya untuk pergi ke negara Galiota mengabdikan diri kepada Raden Begawat Imeng Sonjaya, karena mungkin negara itulah mereka akan mendapat kesulitan.
Merekapun berangkatlah ke negara Galiota, lalu mengabdikan diri kepada raden Begawat Imeng Sonjaya dan menyerahkan adiknya Nyi Mas Inten Badaya.
Raden Deugdeug Pati Jaya Perang diangkat jadi hulubalang raja, Raden demang Jaya Mantri menjadi Patih, sedang Raden Braja Kilat menjadi penjaga keraton.
Suatu ketika Raden Deugdeug Pati Jaya Perang meminta ijin kepada raja akan berperang dengan raja di negara Kuta Gedongan, dan raja di negara Gunung Layang.
Setelah diijinkan Raden Deugdeug Pati Jaya Perang berangkatlah
Negara Kuta Gedongan dirajai oleh tiga bersaudara, yaitu Lembu Tutur, gajah Menur dan gajah Mancawura, yang masing-masing mempunyai adik perempuan yaitu; Sari Kancana, sari Dewata dan Sari Wayangan.
Ketiga bersaudra itu berperang melawan Raden Deugdeug Pati Jaya Perang, tetapi ketiga-tiganya kalah, dan menyatakan takluk serta bersedia mengabdikan diri.
Sebelum kembali ke negara Galiota mereka pergi dahulu ke negara Gunung Larang. Rajanya bernama Gajah Larang, mempunyai adik seorang putri, bernama Nyi Aci Larang. Dalam peperangan melawan Raden deugdeug Pati Jaya Perang, Gajah Larang kalah, lalu menyatakan takluk dan bersedia mengabdikan diri.
Semua raja taklukan dan putri-putrinya dibawa ke negara Galiota, dipersembahkan kepada Raden Begawat Imeng Sonjaya. Negara Galiota menjadi lebih besar dan ramai, subur makmur lohjinawi.
Nyi Ameng Layar, permaisuri raja yang sedang mengandung suatu malam ingin berhibur diri dengan pembacaan ceritera sambil ditembangkan. Raja menyuruh Raden Deugdeug Pati Jaya Perang membacakannya.
Suara orang menembang terdengar oleh Raden Braja Kilat yang sedang menjaga keraton. Ia melihat ke paseban (balaiirung). Terlihatlah Raden Deugdeug Pati Jaya Perang sedang menembang, ditemani oleh Raden Demang Jayamantri, di depan Nyi Ameng layar yang cantik.
Raden Braja Kilat merasa iri, orang lain bersenang-senang, sedangkan ia sendiri disuruh berjaga-jaga, padahal negara Galiota itu kepunyaannya. Timbullah niat jahatnya untuk mencelakakan Raden Deugdeug Pati Jaya Perang dan raden Demang Jayamantri beserta adiknya Nyi Ameng Layar, agar kelak ia sendirilah yang diangkat menjadi patih, dan adiknya Nyi Mas Karuntuyan menjadi permaisuri raja.
Ditiupnya mantra untuk menidurkan semua orang, sehingga ketiga orang yang berada di paseban itu tertidur semuanya.
Kemaluan Nyi Ameng Layar dijahitnya dengan kawat pusaka, lalu ditidurkan dalam pelukan Raden Deugdeug Pati Jaya Perang. Setelah itu cepat-cepat ia memberitahukan raja, bahwa Raden Deugdeug Pati Jaya Perang telah berhianat. Raja dibawa ke paseban untuk melihat buktinya.
Raden Begawat Sonjaya bukan main marahnya, lalu menitahkan kepada Raden Braja Kilat agar ketiga orang itu dibunuh.
Nyi Ameng layar ditarik rambutnya oleh Raden Braja Kilat, lalu di bawa ke alun-alun, dan perutnya diinjak-injak tanpa mendengarkan jeritannya.
Ketika Nyi Ameng Layar akan dibunuh, dihalang-halangi oleh Kai Lengser yang mengatakan bahwa tanpa membunuh Nyi Ameng Layarpun, Raden Braja Kilat pasti menjadi patih. Nyi Ameng Layar lalu dilemparkan jauh-jauh, dan jatuh di Lubuk Batok.
Raden Braja Kilat kemudian menyeret raden Deugdeug Pati Jaya Perang dan raden Demang Jayamantri, dibawa ke alun-alun untuk dibunuhnya. Akan tetapi sebelum Raden Braja Kilat membunuhnya, kedua orang itu berkata, bahwa Braja Kilat tidak mungkin dapat membunuh mereka. Oleh karena itu, bila kematian yang diinginkan raja, mereka lebih baik bunuh diri, lalu keduanya saling menusuk dengan keris mereka masing-masing, hingga mati. Mayatnya dilemparkan oleh Raden Braja Kilat dan jatuh pula di Lubuk Batok, bersama mayat Nyi Ameng Layar.
Sukma ketiga orang itu melihat tubuh mereka dari angkasa, lalu masuk kembali kedalam tubuhnya masing-masing, kemudian mereka hidup kembali, lalu pergi dari Lubuk batok dan mereka tinggal di kaki Gunung Banjaran.
Beberapa waktu kemudian Nyi Ameng Layar menangis meratap-ratap, karena ia merasa akan melahirkan, tetapi bayinya tidak dapat keluar sebab kemaluannya dijahit. Ratapan Nyi Ameng Layar terdengar oleh seorang nenek yang sedang bertapa di Puncak Gunung banjaran. Ditolongnya Nyi Ameng Layar melahirkan dengan membuka dulu kawat penjahit kemaluan Nyi Ameng Layar, dengan kesaktiannya kawat itu dijahitkan kepada Nyi Mas Karuntuyan di negara Galiota.
Nyi Ameng Layar melahirkan, bayinya laki-laki, mirip sekali ayahnya, Raden Imeng Sonjaya. Bayi itu diberi nama Raden Simpay Katulayah Pangeran Rangga Uyuhan.
Raden Demang Jayamantri berunding dengan Raden Deugdeug pati Jaya Perang, bahwa mereka akan kembali ke negara Galiota membawa Nyi Ameng Layar bersama anaknya. Mereka bermaksud menuntut balas kepada Raden Braja Kilat dan Nyi Mas Karuntuyan. Untuk menggendong bayi, maka nenak pertapa ikut pula.
Ketika mereka tiba di negara Galiota, mereka disambut dengan tembakan senapan. Tetapi karena kesaktian nenek pertapa, peluru-peluru itu berbalik arah menyerang pasukan Galiota.
Raden Deugdeug Pati Jaya Perang mengamuk. Semua ponggawa dan prajurit yang ada di alun-alun dibunuhnya. Lalu masuk ke keraton mencari Raden Braja Kilat. Setelah ditemukan, lalu dibunuhnya dan mulutnya dibelah. Mayat Raden Braja Kilat dilemparkan, jatuh di laut utara dan menjadi buaya putih.
Adik Raden Braja Kilat, Nyi Mas Karuntuyan ditangkap tangannya oleh Raden Deugdeug Pati Jaya Perang, lalu diseret ke alun-alun. Perutnya yang sedang mengandung di injsk-injsk dehinggs bsyinys keluar. Ibu dan anak kedua-duanya mati.
Mayat Nyi Mas Karuntuyan dilemparkan ke laut selatan menjadi himi-himi, sedang bayinya dilemparkan ke laut utara jatuh di Muara Kicipir, mejadi bermacam-macam hama.
Raden Deugdeug Pati Jaya Perang bersama Raden Demang Jayamantri serta Nyi Ameng Layar dan nenek pertapa beserta bayinya, masuk ke dalam keraton mencari raja. Lalu menyerahkan Nyi Ameng dan bayinya. Begawat Imeng Sonjaya mau menerima bayi itu sebagai anaknya, kalau anak itu mirip dengannya. Ternyata ketika diperlihatkan, bayi itu mirip wajahnya, barulah Nyi Ameng Layar diterima kembali menjadi permaisurinya.
Negara Galiota kemudian diserahkan kepada Raden Deugdeug Pati jaya Perang, dan Raden Demang Jaya Mantri memerintah kembali negaranya, ialah negara Rambut Pala, sedang Begawat Imeng Sonjaya hanya memerintah di negara Kuta Gedongan.
Raden Deugdeug Pati Jaya Perang memerintah dengan adilnya, sehingga negara Galiota bertambah besar dan ramai, aman tentram dan subur makmur

Sumber ceritera: ed C.M. Pleyte, 1907

PANAMBANG SARI


Sinopsis
LALAKON PANAMBANG SARI

Raja di Pasir Batang Lembur Girang adalah keturunan ratu Pakuan, raja di Pajajaran, nama rajanya adalah Prabu Banday mempunyai permaisuri bernama Ratu Manik Nimbang Leuwi Ratu Emas Kalengleman.
Suatu hari raja bermimpi bertemu dengan seorang putri dari negara Pasir Batang Umbul Hilir yang bernama Raga Geulis Dewi Tulis. Karena mimpinya itu raja menginginkannya untuk dijadikan istri keduanya. Lalu disuruhnya Ratu Manik meminangnya.
Raga Geulis Dewi Tulis bersedia menjadi permaisuri raja Pasir batang Lembur Girang, asal dibawakan boneka dari kancana (emas), permintaan itu disanggupinya, diutuslah Demang Kumitir (Panambang Sari) untuk mencari boneka kancana di Gunung Teulu.
Sesampainya di Gunung Teulu, Demang Kumitir berperang dengan yang punya boneka kancana, yaitu Pangeran Naga Kancana, ia dapat mengalahkannya dan dibunuhnya, namun atas permintaan adik Pangeran Naga kancana yang bernama Lenggang Kancana  dihidupkan kembali. Kemudian mereka mengabdi kepada Prabu Banday dan Lenggang Kancana dijadikan istri raja.
Demang Kumitir mengantarkan boneka kancana kepada Putri Raga Geulis Dewi Tulis di negara Pasir batang Umbul Hilir. Putri tetap menolak untuk diperistri prabu Banday karena ia beralasan telah bertunangan dengan Jayang Sari, raja Geger Hanjuang Bale Pamengkang. Demang Kumitir menjadi marah, lalu Raga Geulis Dewi Tulis dimasukkan ke dalam sarungnya. Untuk berhasilnya tujuan lalu Demang Kumitir berperang dengan tunangannya yang dibantu pula oleh kakak Raga Geulis Dewi Tulis yang bernama Lanjar Sari. Namun mereka dikalahkan serta dibunuhnya, namun dihidupkan kembali, atas permintaan Putri Raga Geulis. Semuanya menyatakan takluk dan mengabdi kepada raja.
Untuk keberhasilan Demang Kumitir, maka diadakanlah pesta. Negara Pasir Batang Umbul Girang menjadi negara yang aman tentram, subur makmur berkat panglimanya yang bernama Demang Kumitir (Panembang Sari)

Sumber ceritera
Sumber ceritera
Badoeyshe Pantoen Verhalen, J.J. Meyer
1891


CIUNG WANARA


Sinopsis
CARITA CIUNG WANARA

Penduduk Nagara Galih pakuan kebanyakan masih orang halus. Penduduk setengah manusia baru 40 pasang dan manusia baru 20 pasang.
Rajanya bernama Sang Permana Di Kusumah. Dari kedua permaisurinya yaitu Pohaci Naga Ningrum dan Dewi Pangrenyep belum mempunyai putra
Pada suatu waktu Mantri Anom Aria Kebonan, Ki Gedang Agung akan menghadap raja, tetapi raja sedang beradu. Timbullah niatnya untuk menjadi raja, setelah melihat nikmat dan enaknya menjadi raja. Ratu weruh sadurung winara (tahu sebelum kejadian), oleh karena itu segera memanggil Mantri Anom. Ratu bertanya kepada Mantri Anom tentang keinginannya itu. Mula-mula tidak mengakuinya, tetapi setelah didesak baru berterus terang.
Tak lama kemudian, Sang Permana menyerahkan negara beserta isinya. Kedua permaisurinya dititipkannya pula, hanya dengan perjanjian keduanya tidak boleh diganggunya. Sesudah serah terima kekuasaan, Mantri Anom berganti nama menjadi raden Galuh Barma Wijaya Kusumah sebagai ratu panyelang. Di hadapan raja baru, sang Permana menghilang. Ia pergi ke Gunung Padang dan menjadi pendeta di sana, dengan nama Ajar Suka Resa.
Sepeninggal Sang Perman, ratu baru menyuruh mengadakan pesta besar-besaran. Sebelumnya ia berpesan kepada Lengser agar tidak ada yang tahu bahwa ia raja baru. Kepada rakyat hendaknya disampaikan, bahwa raja telah kembali muda.
Selama di Gunung Padang, hati sang pendeta tiada tenang. Pertama karena raja Barma Wijaya mabuk kekuasaan; ia berbuat sewenang-wenang. Lain daripada itu Sang Permana belum mempunyai keturunan dari kedua permaisurinya. Ia segera bertafakur minta kepada Hyang Widi agar dari kedua permaisurinya dikaruniai anak. Tak lama kemudian terlihatlah cahaya yang kilau kemilau; sebagian turun di hulu negeri dan masuk ke dalam diri Naga Ningrum, sebagian lagi jatuh di keraton dan masuk ke dalam diri dewi Pangrenyep. Sesudah itu Naga Ningrum bermimpi melihat cahaya yang kilau kemilau. Olehnya cahaya itu diambilnya, lalu dikandungnya dengan cinde wulung. Begitu bangun ia merasa susah sekali. Atas anjuran pendeta itu, Naga Ningrum memberitahukan mimpinya kepada raja, bahwa baik Dewi pangrenyep maupun Naga ningrum akan mempunyai putra laki-laki. Ratu tidak percaya akan keterangan Naga Ningrum. Ia ingin bertanya langsung dengan pendeta itu. Maka diutusnya Lengser untuk memanggil pendeta tersebut.
Setelah Lengser pergi, kepada Naga Ningrum raja menyuruh mengandung bokor kancana, dan kepada Dewi Pangrenyep menyruh mengandung kuali kancana, seolah-olah mereka sedang mengandung tujuh bulan.
Pendeta tahu akan kedatangan Lengser. Pendeta bersedia dipanggil raja, tetapi akan datang kemudian. Hanya dititipkannya kepada Lengser: bunga melati sebungkus, kunir sesolor dan bunga putih sepotong. Menerima pemberian itu raja sangat marah.
Pendeta, merubah dirinya menjadi kakek-kakek, berangkatlah ia dengan maksud menghadap raja. Di hadapan raja ia berkata, bahwa dari kedua permaisuri itu akan dilahirkan putra laki-laki. Mendengar itu raja semakin marah. Perut pendeta ditusuknya dengan Curiga/keris, tetapi tidak mempan. Bahkan keris itu menjadi pendek (mengkerut). Raja bertambah marah, dianggapnya pendeta melawan raja. Pendeta lalu ditantangnya. Dijelaskan oleh pendeta bahwa ia tidak bermaksud menantang raja. Apabila memang raja menghendaki ia mati, ia rela melaksanakannya. Pendeta lalu tunduk, mengeluarkan sukmanya di depan raja. Kemudian jasadnya dilemparkan, berubah menjadi Naga Wiru, lalu bertapa.
Karena kandungan kedua permaisuri itu semakin besar, maka kuali dan bokor kancana jatuh. Keduanya dilemparkan, jatuh di tanak Kawali dan Padang.
Dengan ditolong oleh dukun beranak Nini Marga Sari, Dewi Pangrenyep melahirkan seorang putra laki-laki. Oleh ratu anak itu diberi nama Aria banga. Selanjutnya diadakan pesta, memetakan anak yang baru lahir.
Pada suatu hari raja dicarikan kutu di rambutnya oleh Naga Ningrum. Karena nikmatnya raja tertidur di pangkuan naga Ningrum. Sukma pendeta masuk ke dalam kandungan Naga Ningrum. Anak itu berkata, bahwa raja terlalu kejam. Pendeta Gunung Padang tidak berdosa, oleh karena itu pembalasan kepada raja akan datang pada suatu waktu. Begitu bangun raja menuduh Naga Ningrum atau Lengser mengatakan kalimat itu. Kedua orang yang dituduh itu memungkirinya. Ketika ditanyakan kepada para bupati, para mantri dan ahli nujum, ada seorang mantri yaitu Banyak Lumanglang yang mencoba menerangkannya. Dikatakannya bahwa kejadian itu baik dan buruk. Yang lain, yaitu Yaksa Mayuta memberikan keterangan bahwa yang mengucapkan itu adalah bayi dalam kandungan Naga Ningrum, dan ucapan itu akan membawa akibat buruk pada raja. Mendengar keterangan itu, raja menyatakan, bahwa ia tidak lagi mempunyai hubungan apa pun dengan Naga Ningrum, dan jika anak itu lahir, tidak akan diakuinya sebagai anak. Kepada Dewi pangrenyep raja berpesan supaya pada waktu Naga ningrummelahirkan mata dan telinganya harus ditutup dengan malam panas. Anaknya supaya ditempatkan dalam kandaga, lalu dihanyutkan ke sungai Citanduy.
Untuk membantu kelahiran Naga Ningrum, ia menyuruh dua orang emban yaitu Sangklong Larang dan Timbak Larang mencari dukun beranak. Tetapi dukun beranak tidak diperolehnya. Hal itu diberitahukan kepada dewi pangrenyep. Dewi Pangrenyep segera datang di tempat Naga Ningrum. Ditolongnya Naga Ningrum melahirkan, lalu dilakukannya apa-apa yang diruhkan raja kepadanya.
Setelah bayi lahir, bersama sebutir telur aya, ditempatkan dalam kandaga. Tembuninya ditempatkan dalam tapisan setelah dibentuk seperti anjing. Sesudah itu Dewi Pangrenyep membuang bayi tersebut ke sungai Citanduy. Dengan melewati sebuah Jamban larangan dan Ciawi Tali, sampailah kandaga itu disapu angin, dan tersangkut disana.
Kandaga terlihat oleh raden Himun Hidayatullah, putra Nabi Sulaeman yang sedang bertapa di bantengmati. Kemudian sungai Citanduy ditepuknya supaya banjir, dan merubah dirinya menjadi buaya putih. Kandaga lalu dijunjungnya sampai di sebelah hilir Sipatahunan.
Setelah membuang bayi, Dewi Pangrenyep mengajak Naga Ningrum membuka tapisan yang ditutupi dengan cinda kembang. Bukan main terperanjatnya Naga Ningrum, karena yang dilihatnya bukan bayi biasa, melainkan seekor anak anjing.
Sesudah raja mengetahui hal itu, disuruhnya lengser untuk membunuh Naga Ningrum, namun Lengser tak sampai hati membunuhnya, malah Naga Ningrum disuruhnya bertapa.
Setelah Lengser memberikan laporan tentang tugas “membunuh” Naga Ningrum, ia diperintahkan raja untuk mengumumkan kepada rakyat tentang akan diadakannya pesta.
Di sebelah hilir kandaga tersangkut, ada sebuah lubuk yang bernama Leuwi Sipatahunan. Di sinilah Aki dan Nini Balangantrang mmasang lukah/badodon. Karena melihat sungai itu banjir, aki dan nini Balangantrang tidak berani mengangkat lukahnya. Mereka kembali lagi ker rumahnya, kemudian mereka tidur. Nini Balangantrang bermimpi melihat matahari sambil memangku bulan. Sedangkan Aki balangantrang bermimpi melihat cahaya di dasar air sebesar buah balingo. Mereka mencoba mereka-reka makna mimpi. Karena yakin akan mendapat rizki lebih besar lagi dari lukahnya.
Mereka kembali ke sungai untuk melihat lukahnya. Tampak oleh mereka dalam lukahnya ada kandaga. Dikeluarkannya lukah itu lalu kandaga dibukanya. Pada awlanya kaget tapi kemudian mereka gembira karena setelah membuka kandaga ternyata isinya adalah seorang bayi dan sebuah telur ayam. Bayi segera dimandikan dengan air yang keluar dari celah-celah batu yang kena hentakan kaki bayi tersebut.
Pada suatu hari anak itu menyirep (membuat tidur orang lain) Aki dan Nini Balangantrang. Di kala mereka tidur, anak itu terbang ke angksa. Dari sana terlihatlah negara Galih Pakuan, dan Aria banga sedang diasuh oleh para tumenggung, dijaga oleh para bupati. Timbul rasa irinya. Ia bersama Aki dan Nini Balangantrang hidup dalam kesengsaraan. Maka diciptakanlanya sebuah kampung yang diberi nama babakan geger sunten. Setelah itu ia minta ayam jantan. Atas suruhan anak itu, Aki balangantrang mengambil telur yang ada dalam kandaga. Selanjutnya anak itu pergi ke Gunung padang untuk meminta tolong Naga Wiru menetaskan telur ayam tersebut. Kemudian anak itu minta pula bahan sumpit dan koja. Kehendaknya dilaksanakan pula oleh Aki Balangantrang
Pada suatu hari anak itu mengajak pergi berburu kpada kedua orang tua angkatnya. Di hutan di lihatnya tiga ekor ciung dan wanara (kera). Kedua jenis binatang ini tidak boleh disumpitnya. Sejak itu, anak tersebut bernama CIUNG WANARA. Ciung Wanara bertanya tentang siapa orang tua yang sebenarnya. Dijelaskan oleh Aki Balangantrang, bahwa ayah yang sebenarnya adalah Ratu Galih Pakuan, dan ibunya adalah Naganingrum
Terdengarlah berita oleh Ciung Wanara, bahwa di nagara Galih Pakuan akan diadakan sabungan ayam. Ia segera minta ijin kepada orang tua angkatnya untuk mengikuti persabungan itu.
Setibanya di pintu gerbang negara, terlihatl oleh Ciung Wanara tiga orang penjaga yaitu Aki Geleng Pangancingan, Aki Kuta Kahyangan dan Yaksa Mayuta. Ketiga penjaga itu tak bisa melihat Ciung Wanara, karena mantra-mantra yang diucapkan Ciung Wanara.
Ciung Wanara meneruskan perjalanannya . ia bertemu dengan nenek-nenek yang memelihara ayam raja. Ayam itu disabungnya, sehingga ayam raja kalah dan mati.
Sesampainya di alun-alun, ia mengubah dirinya menjadi anak hitam buncit perut. Ayamnya jadi ayam kelabu sentul. Ia bertemu dengan Guntur Sagara dan Bontot Nagara, anak Gajah Manggala, pertemuan dengan anak itu diberitahukan kepada ayahnya, Gajah Manggala. Lengser segera disuruh menangkap anak itu. Lengser tak bisa menemukannya, karena anak itu telah mengubah dirinya menjadi Bagus Lengka, seorang satria yang gagah dan tampan. Lengser tahu bahwa anak yang dicarinya itu tiada lain daripada putra Naga Ningrum yang dibuang ke Sungai Citanduy.
Di alun alun Ciung Wanara bertemu dengan Patih Purawesi dan Patih Puragading yang membawa ayam. Ayam Ciung Wanara disabungnya dengan ayam kedua patih itu. Ayam patih itu kalah dan mati oleh ayam Ciung Wanara. Kedua patih itu marah, diterkamnya Ciung Wanara, tapi Ciung Wanara menghilang.
Setelah mencari ke sana ke mari, di alun-alun Lengser bertemu dengan Ciung Wanara. Oleh Lengser ia dihadapkan kepada raja. Dikatakannya bahwa ia ingin ikut menyabung ayam. Raja menyetujuinya, dengan mempertaruhkan negara sebelahnya. Ciung Wanara mempertaruhkan nyawanya.
Pada waktunya, dimulailah pertarungan ayam Ciung Wanara dengan ayam raja. Ayam Ciung Wanara terdesak. Segera ia pergi ke tepi Cibarani, diusap ayamnya dengan air. Setelah itu ayamnya disabungkan kembali. Ayam raja kalah. Segera para bupati dan para mantri dipanggil raja, lalu raja mewariskan negara sebelah barat beserta isinya kepada Ciung Wanara. Negara bagian timur dan isinya kepada Aria Banga.
 Lama-lama Ciung Wanara sadar, ia merasa ditipu oleh raja. Apa yang diberikan raja kepadanya bukanlah warisan, melainkan taruhan menyabung ayam. Ia ingin membalas kekejaman raja dan Dewi Pangrenyep, dengan jalan memenjarakannya dalam penjara besi. Sebelumnya ia minta ijin kepada ibunya, juga kepada ayahnya. Ibu dan ayahnya merestuinya. Kala itu datanglah Batara Trusnabawa, ayah Naga Ningrum memberikan bahan penjara.
Kepada pandai besi yang bernama Ki Gendu Mayak dikemukakan maksud akan membuat penjara besi itu. Pandai besi itu bersedia membuatkan penjara besi dengan syarat memberitahu terlebih dahulu kepada Ratu Sepuh, yaitu Raden Galuh Barma Wijaya. Ketika raja bertanya tentang maksud membuat penjara, dikatakannya bahwa penjara diperuntukan orang yang berniat jahat kepada raja dan permaisurinya.
Penjara yang amat baik buatannya telah selesai, Raja dan Dewi Pangrenyep ingin melihatnya. Ketika akan melihat bagian dalamnya, Ciung Wanara membuat damar. Begitu mereka masuk, dikuncilah penjara itu dari luar oleh Ciung Wanara. Mereka terkurung dalam penjara. Ketika didengar oleh Aria Banga akan hal itu, disuruhnya para bupati, para jaksa dan para aria mengeluarkannya. Tetapi tidak berhasil, karena penjara tak bisa diangkat mereka.
Ciung Wanara bertemu dengan Aria Banga, terjadilah peperangan. Setelah delapan belas tahun berperang, sampailah di sebuah sungai, Aria Banga dilemparkan ke sebelah timur. Akan kembali menyerang tidak dapat, karena terhalang oleh sungai itu. Dikatakan oleh Aria Banga, bahwa peperangan hanya sampai disitu. Sungai itu dinamainya sungai Cipamali (tabu) berselisih dengan saudara. Mereka bersalaman. Selanjutnya Aria Banga pergi ke timur, sampailah di Majapahit. Sedangkan Ciung Wanara menuju ke barat. Sebelum berpisah ditentukanlah batas kekuasannya. Dari Cipamali ke timur bagian Aria Banga dengan nama tanah Jawa, Kejawan Kaprabon. Dari Cipamali ke barat, dengan nama Tanah Sunda, Pasundan sampai di Palembang bagian Ciung Wanara
Penjara dilemparkan oleh Ciung Wanara, jatuh di Kandang Wesi, Ciung Wanara pergi ke Pajajaran, Aria banga menuju Majapahit.

Sumber ceritera
Almanak Sunda. G.M. Pleyte
1922/1923

CINTA PABALIUT


Cinta Pabaliut
Novel karangan Eddy D. Iskandar, diterbitkan oleh Pustaka Dasentra, bandung, tahun 1983. buku ini berukuran 18 cm x 12 cm, dengan tebal 79 halaman.
Dalam novel ini, pengarang mengemukakan masalah ajaran moral dan pendidikan. Cinta terhadap kebudayaan dapat timbul akibat cinta kepada pelakunya. Cinta dapat putus daripada putus persahabatan. Cinta dapat membara karena sering berjumpa. Novel ini menggambarkan suasana lingkungansekolah dan lingkungan seni, yang diungkapkan dengan penuh romantis dalam dialog

Ringkasan Ceritera
Jaka jatuh cinta pada Titut Kartasasmita, murid kelas tiga SMA teman sekelasnya. Jaka memuji Titut, tetpi Titut tetap menolak cinta Jaka.
Titut dinasehati oleh ibunya supaya tidak terganggu sekolahnya dan jangan terbawa pergaulan bebas, masalah memilih calon suami pun harus diutamakan keturunan, rajin ibadah, cintanya sejati, serta harta juga harus diperhatikan.
Titut diajak melihat pembacaan sajak oleh Imas, teman sekelasnya. Namun, di perjalanan sepeda motor Imas mogok dan diperbaiki oleh seorang pemuda. Tiba-tiba Titut mulai jatuh cinta pada pemuda itu.
Di tempat parade Panyajak Sunda 1982, Titut semakin tertarik kepada pemuda yang memperbaiki motor itu, Darma Kancana namanya. Titut sempat mengucapkan selamat serta kenalan kepada Darma setelah Darma membacakan sajak. Darma Kencana adalah mahasiswa Fakultas Sastra Sunda yang disenangi teman-temannya, Nia dan Meiske yang cantik pun tertarik pada Darma. Namun Darma tidak meresponnya. Titut dan Imas dapat bertemu lagi dengan Darma di depan pintu bioskop.
Jaka mencoba kesungguhan Titut di kelas, apakah Titut mencintai Jaka atau tidak; kalau Titut tidak mencintai Jaka, yang akan mengalihkan cintanya pada Imas, teman Titut.
Imas dan Titut datang pada acara Pagelaran Seni Sunda Dasentra 1983 dan melihat Darma Kancana tampil dalam acara itu. Titut menyesal tidak mempunyai kesempatan menemui Darma Kancana.
Titut semakin menyenangi kesenian Sunda dan mendapat pujian dari orang tuanya yang menaruh simpati pada seni Sunda. Imas menyenangi seni Sunda sejak kecil sebab ayahnya adalah Pembina Kesenian Tradisional Daerah.
Darma Kancana datang ke rumah Imas untuk menemui Angkawijaya memperbincangkan gending karesmen Sangkuriang kabeurangan.
Titut bertemu dengan Darma Kancana di lapang olahraga dan sempat bertanya. Nia pun dapat berdialog dengan Darma dengan alasan minta diajari mengarang.
Titut berkunjung ke kampung halaman Imas di Neglasari Ciwidey. Tanpa diduga-duga ia dapat bertemu dengan Darma. Titut pernah berbicara berdua dengan darma di sawah. Namun, masalah cinta belum dapat disinggung-singgung.
Kedatangan Darma Kancana ke rumah Imas semakin sering. Semula Imas tidak mempunyai curiga apa-apa. Empat malam Minggu berturut-turut berkunjung pada Imas. Imas pernah diajak menonton dan masuk restoran. Akhirnya Darma terus terang pada Imas melalui surat menyatakan cinta. Imas heran sebab semula Darma ini akan menjadi pacar Titut, walaupun begitu sebenarnya Imas juga cinta kepada Darma. Keputusan Imas lebih baik tidak menerima cinta Darma daripada putus persahabatan dengan Titut; Imas tahu Titut sangat mencintai Darma Kancana.
Jaka yang sudah lama jatuh cinta pada Titut, datang malam Minggu ke rumah Imas minta diantar main ke rumah Titut.
Rasa asmara Jaka yang sudah bergejolak, terhenti ketika mau masuk ke rumah Titut sebab sudah ada pemuda yang baru masuk yaitu Darma. Jaka menyesal dan bingung. Ia pulang kembali bersma Imas dengan membawa rasa kesal.

PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
1986


BURON


Buron
Novel karangan Aam Amalia ini diterbitkan oleh Pustaka Dasentra Bandung, tahun 1983. buku ini berukuran 18 cm x 12 cm, dengan tebal 131 halaman.
Dalam novel ini pengarang mengemukakan masalah ajaran moral dan nilai-nilai pendidikan. Manusia jangan terlalu cepat dalam mengambil tindakan dan jangan membohongi diri sendiri dengan menyebutkan hasil karangan sendiri padahal sebenarnya karya orang lain. Perbuatan ini munafik, yang membuat diri terasa jadi buron dari kehidupan dan dari perasaan sendiri. Novel ini menggambarkan perbandingan kehidupan kota dan kampung.

Ringkasan Ceritera
Kedatangan Bi Umi ke kampung Pa Ulis, menjadi pembicaraan orang, karena Bi Umi disangka gila. Ketika Alan, anak dokter, ikut melihat Bi Umi, Alan luka kakinya, Bi Umi yang disangka gila itu malahan merawat Alan.
Ketika Bi Umi sedang ngobrol dengan Alan, datanglah Pa Ulis, ayah Alan, dan banyak orang lainnya. Bi Umi ditempeleng oleh Pak Ulis dengan tuduhan ia telah mengganggu anak-anak. Namun ayah Alan segera melarangnya.
Bi Umi diberi uang oleh ayah Alan serta ucapan terima kasih telah merawat anaknya. Pa Ulis ingin menukar uang Bi Umi dengan uang yang tidak berlaku. Namun Bi Umi tidak memberikannya sebab dia tidak gila. Alan sendiri sering mengatakan pada temannya bahwa Bi Umi itu tidak gila.
Andika, suami Umi, datang dengan wajah yang sedih akibat naskahnya ditolak redaksi yang menggalkan cita-citanya akan membeli kursi. Namun suatu hari Andika membawa kursi yang mahal serta merahasiakan pada Umi cara mendapatkan uangnya, selain kursi alat rumah tangga lainnya pun dibelinya. Alhirnya Andika memberitahukan pada Umi tentang pekerjaannya, yang disangka toko buku tetapi di dalamnya ganja dan morfin. Dengan kejadian itu Andika mengajak pindah rumah ke desa S di kaki Gunung Galunggung karena ada perasaan takut dikejar polisi dan sindikat.
Naskah karya Andika dari desa S harus Umi antarkan ke kantor surat kabar dan majalah di kota B serta harus diakui sebagai karyanya. Amara dari majalah Wanoja mendesak identitas dan kemampuan Umi sebagai pengarang. Umi pernah diberi undangan menghadiri pertemuan Paguyuban Sastrawan Sunda; Umi tidak menghadiri karena takut dan merasa tidak mampu.
Umi pergi ke kota B lagi mengambil honor. Tiba-tiba ada berita Gunung Galunggung meletus. Segeralah Umi pulang untuk menemui Andika, tetapi Andika sudah tidak ada di rumah.
Umi bergabung dengan para korban Galunggung di barak tempat penampungan korban. Umi pergi ke rumah nenenk Bi Mursih sambil membawa perban dan obat-obatan. Rumah nenek Bi mursih sudah kosong. Sekarang Umi tinggal sendirian
Umi pernah mengejar laki-laki yang mirip dengan suaminya. Laki-laki tersebut lari sambil mengatakan orang gila berulang-ulang pada Umi. Akibatnya, Umi disangka orang gila di kampung itu.
Setela Umi merawat Alan anak dokter, teman-teman Alan mengatakan bahwa Bi Umi tidak gila dan mengundang Bi Umi untuk datang ke rumah dokter. Di sanalah dokter menceritakan bahwa Paguyuban Sastrawan Sunda sudah mengetahui Umi ada di sini dan akan menjemputnya. Banyak orang berkumpul di rumah dokter mau minta maaf pada Umi.
Asmara datang ke rumah dokter untuk menemui Umi dengan membawa surat dari Andika yang isinya mengatakan bahwa di dunia ini penuh dengan kemunafikan dan mereka akan melepaskan diri dari buron kehidupan yang ada dalam perasaannya serta memilih tempat kampung Ck yang merupakan kombinasi keadaan kota dan kampung sebagai tempat tinggal baru.

PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
1986


BUDAK TEUNEUNG


Budak Teuneung
Novel ini karangan Samsudi, cetakan pertama dan kedua dikeluarkan oleh Balai Pustaka, Jakarta, tanpa tahun dan cetakan ketiga diterbitkan oleh Pusaka Sunda, bandung tahun 1965. buku ini berukuran 17 x 12 cm, dengan tebal 58 halaman.
Novel ini mengungkapkan masalah kehidupan anak-anak dalam sosok yang lebih lengkap. Gambaran Si Warji ditampilkan sebagaimana lazimnya kebanyakan anak-anak seusia dia di kampung-kampung. Novel ini mengandung unsur-unsur pendidikan yang mengetengahkan sifat-sifat kejujuran, kesabaran, dan kesetiaan yang terjalin dalam kehidupan orang desa.

Ringkasan Ceritera
Seorang anak yatim Si Warji namanya. Dia berumur kurang lebih sebelas tahun. Bersama ibunya, dia menempati sebuah rumah kecil yang sudah reyot. Walaupun mereka hidup dalam kemiskinan, ibu Warji tidak pernah kehilangan cinta kasih san selalu menasehati Warji agar menjadi anak yang jujur, penyabar, pemaaf dan mau mengalah demi kebaikan.
Cobaan demi cobaan harus dihadapi Warji dengan tabah. Dia sering mendapat perlakuan yang kurang senonoh hanya lantaran Warji bukan anak orang kaya. Warji dihina, dikucilkan, malahan teraniaya oleh anak-anak lain yang dimanja oleh orang tuanya seperti Si Begu dan Si utun.
Pada suatu ketika, Warji dapat menolong Asep Onon, anak Lurah yang terjerumus ke dalam sebuah sumur kering. Sejak itulah Warji menjadi kawan Asep Onon yang semula membencinya. Sebagai tanda terima kasih atas pertolongan Warji, Pak Lurah mengangkat Warji menjadi penggembala kerbau.
Keluarga Pak Lurah sangat menyayangi Warji, dan Asep Onon menjadi teman akrab Warji. Warji sering diajari membaca dan menulis oleh Asep Onon. Oleh karena Warji rajin dan berotak encer, dalam waktu yang tidak begitu lama dia sudah dapat membaca dan menulis.
Pada suatu hari Asep Onon berkelahi dengan Si Begu dan Si utun. Untunglah Si Warji segera datang sehingga Si Begu dan Si Utun dapat dikalahkan oleh Si Warji.
Setelah bertahun-tahun Warji hidup mengikuti Pak Lurah, akhirnya dia diangkat menjadi salah serang pegawai desa, sedangkan Si Begu dan Si Utun terlanjur nakal kemudian menjadi penjahat.
Kejahatan Si begu dan Si utun baru berhenti setelah Si Warji dengan teuneung dan penuh keberanian menangkap mereka dan menyerahkannya kepada yang berwajib. Sebagai tanda penghargaan. Warji menerima hadiah dari Bapak Lurah.

PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
1986


BUDAK MINGGAT


Budak Minggat
Novel karangan Samsudi, cetakan pertama diterbitkan oleh Balai Pustaka, Jakarta, tanpa tahun. Cetakan kedua diterbitkan oleh Pusaka Sunda bandung tahun 1965. buku ini trdiri atas dua jilid, masing-masing tebalnya 70 dan 75 halaman, berukuran 17 x 12 cm.
Novel ini mengungkapkan nilai-nilai pendidikan, seperti kejujuran, keteguhan hati, dan kesetiaaan. Dalam buku ini diungkapkan pula nilai-nilai sosial yang terdapat dalam kehidupan masyarakat kuli perkebunan pada jaman penjajahan Belanda. Si Kampeng pelaku utama dalam novel ini, oleh pengarang digambarkan seadanya tanpa dibuat-buat, sehingga sosok peribadinya muncul secara lengkap, baik kejujurannya maupun kenakalannya.

Ringkasan Ceritera
Seorang anak Si Kampeng namanya, berusia 16 tahun. Ayahnya telah tiada. Ia berada di bawah asuhan ayah tirinya.
Ayah titinya sering menasehati dan memarahi Si Kampeng karena Kampeng terlalu senang bermain dan lupa membantu ayah tirinya yang pemarah.
Pada suatu senja. Kampeng disuruh oleh ayah tirinya membeli tembakau dengan dibekali uang satu rupiah. Pada saat ia akan membayarkannya, uang itu hilang. Ia pulang ke rumah tanpa tembakau. Marah ayah tirinya menjadi-jadi, meskipun ibunya turut membela Kampeng. Sebuah tamparan mendarat di pipi ibu Kampeng, ketika tamparan kedua akan mendarat di pipi ibu Kampeng, ia mencegahnya karena tidak tega melihat ibunya teraniaya. Ia menerjang tulang rusuk ayah tirinya. Darah pun muncrat dari kepala ayah tirinya yang luka membentur tiang. Kampeng kaget dan ketakutan, pikirannya kalut dan bingung, tidak tahu apa yang mesti dilakukan. Kemudian Kampeng pun larilah, minggat tanpa tujuan.
Dalam perjalanan minggatnya, Si kapeng ditipu orang. Ia terjual ke Deli, menjadi kuli perkebunan. Akan tetapi karena usia Kampeng masih terlalu muda, dia tidak jadi dipekerjakan sebagai kuli. Seorang Cina membawanya ke pulau Bengkalis untuk dipekerjakan sebagai penebang kayu di hutan belantara. Kampeng bertemu dengan mandor-mandor yang galak dan kejam. Untunglah dia bertemu dengan teman senasib anak Cina, Kim San namanya.
Pada suatu hari, ketika Kampeng sedang menebang pohon di hutan, Kim san sakit berat. Tidak seorangpun mau menolong, kecuali kampeng. Hujan turun dengan lebatnya. Seekor harimau besar tiba-tiba muncul dan mengaum menyeramkan. Si Kampeng lari terbirit-birit sambil kepayahan menggendong Kim San yang sakit menuju sebuah los. Demikian Kampeng memasuki pintu los, kepala harimau pun nongol di lubang pintu. Kampeng tak menyia-nyiakan kesempatan, leher harimau itu secepatnya dijepit dengan daun pintu dengan sekuat tenaga yang masih tersisa padanya. Harimau mati setelah berontak meronta-ronta karena lehernya tercekik oleh daun pintu, Kampeng selamat, orang-orang yang berada di sana semuanya memuji keberanian Kampeng.
Serombongan pemeriksa datanglah ke hutan penebang kayu, tempat Kampeng menyandang derita. Kampeng diberi kesempatan melaporkan tentang kehidupan kuli-kuli disana. Akibatnya, banyak mandor kejam yang diberhentikan. Kampeng diperbolehkan keluar dari tempat penebangan kayu, sebagai penghargaanatas laporan yang diberikannya dan karena usia Kampeng yang masih sangat muda.
Pergilah kampeng ke kota Bengkalis. Di sana dia menjadi tukang tembok atas pertolongan Arsim dan Akbar. Kampeng bekerja tekun dan sungguh-sungguh sehingga mendapat kepercayaan majikannya, akibatnya, Kampeng dibawa pindah majikannya ke Padang. Di sana Kampeng bekerja lebih rajin lagi, namun karena Kampeng sangat disayangi majikannya, dia dibenci dan bahkan difitnah oleh pegawai-pegawai lain. Kampeng minta berhenti bekerja di sana. Kampeng memperoleh pekerjaan lain menjadi tukang kayu dan membuat jembatan. Dia tetap bekerja rajin, sungguh-sungguh dan jujur. Majikannya yang baru ini pun menyayanginya pula.
Rasa rindu kampung halaman datang mencekam perasaan Kampeng. Setelah cukup uang tabungannya, dia pulang ke Jawa. Dalam perjalanan pulang ke pulau Jawa, Kampeng mampir belanja di pasar Golodog. Secara kebetulan, dia disana berjumpa dengan Kim San, orang yang pernah ditolongnya ketika sakit di tengah hutan penebangan kayu. Kim San kini telah menjadi seorang pedagang kain. Sebagai tanda terima kasih Kim San pada Kampeng, Kim Sanmemberikan sejumlah kain dan uang.
Kampeng meneruskan perjalanan pulang ke kampung. Pulanglah Kampeng, si anak hilang ke pangkuan ibunya. Betapa bahagia  hati seorang ibu yang menemukan kembali anaknya yang sudah dianggap hilang.

PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
1986


BUDAK MANYOR


Sinopsis
CARITA BUDAK MANYOR

Sunan Ambu, ratu kahiangan, telah berputera delapan orang. Kendati demikian, sang maha dewi pada suatu ketika memetik setangkai bunga jaksi dan daripadanya diciptakanlah dua orang anak, seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kedua anak itu sangat buruk rupanya. Yang laki-laki tulang dadanya menonjol, sedang yang perempuan tulang keningnya menjorok keluar. Yang laki-laki diberi nama BUDAK MANYOR dan yang perempuan SI GENJRU, dua nama yang sesuai dengan keburukan rupa mereka.
Pada suatu ketika Sunan Ambu memanggil mereka berdua, lalu memerintahkan kepada mereka agar turun ke dunia ( Buana Panca Tengah ) dan tinggal di Babakan Nenggang di Pakuan. Di dunia mereka diperintahkan untuk hanya makan cabai dan bawang merah sebanyak-banyaknya. Keduanya melaksanakan perintah ibunya, mereka tinggal di rumah nenek dan kakek “panyumpit” ( pemburu yang dalam pekerjaanya mempergunakan alat sumpitan).
Dikisahkan di negara Kuta Haralang yang diperintah oleh Raden Patih Gajah Malang, dan dibantu oleh patihnya timbul suatu masalah. Masalah tersebut bermula pada permintaan putri Agan Aci Haralang, adik baginda yang cantik jelita yang tak mau makan dan minum. Ternyata kemudian bahwa sang putri menginginkan sesuatu, yaitu ingin menyantap daging lutung duapuluh ekor, monyet duapuluh ekor dan jaralang empatpuluh ekor. Sang putri menyatakan, bahwa kalau keinginannya itu tidak dipenuhi, niscaya ia tidak akan sembuh dari sakitnya dan nafsu makan minumnya akan tetap hilang.
Baginda gajah Malang memanggil sesepuh yang dipercaya, yaitu Lengser, untuk mendapatkan apa yang diminta sang putri. Lengser mengerahkan para pemburu ke hutan, namun tak seekorpun dari binatang-binatang yang diinginkan itu ditemukan. Akhirnya baginda teringat pada Ki Panyumpit, lalu memerintahkan Lengser untuk menemui Ki Panyumpit dengan pesan agar Ki Panyumpit mendapatkan pesanan sang putri dan tidak boleh berhampa tangan. Seperti juga Lengser dan para pemburu, Ki Panyumpit yang dibantu istrinya tidak menemukan seekor binatang pun.
Budak Manyor mendengar kesulitan ayah dan ibu pungutnya, lalu menyanggupi untuk menolong. Satu permintaannya, yaitu bahwa dari setiap jenis binatang ia meminta bahagian seekor. Ki Panyumpit menyanggupinya. Budak Manyor meminta agar kakek dan nenek Panyumpit memejamkan mata, sementara dia dengan adiknya Si Genjru berdoa kepada Sunan Ambu (ibunya) mereka memohon pertolongan. Ketika suami istri tua itu membuka mata mereka kembali, tampaklah lutung, monyet/kera dan jaralang berlompatan di dahan-dahanpohon di hutan itu. Dengan mudah Ki Panyumpit mendapatkan pesanan raja.
Namun ketika Budak Manyor menagih hadiahnya, Ki Panyumpit tidak memberinya, karena jumlah binatng yang didapat sesuai dengan pesanan. Budak Manyor tidak bersikeras untuk mendapatkannya, namun ketika Ki Panyumpit dan istrinya berangkat untuk menyampaikan pesanan raja, dengan kesaktiannya Budak Manyor memanggil tiga ekor diantara binatang-binatang itu.
Ketika pesanan dihitung di hadapan raja, Ki panyumpit dan istrinya terkejut karena jumlahnya berkurang. Raja bertanya, Ki Panyumpit dan istrinya hanya menyampaikan dugaan mereka, bahwa binatang-binatang itu diambil oleh Budak Manyor. Raja memerintahkan agar Budak Manyor dipangil.
Budak Manyor diminta menunjukan di mana binatng-binatang itu berada, akan tetapi ia menolak. Akhirnya raja marah dan menghukum Budak Manyor dan Si Genjru. Si Genjru harus menumbuk padi, sementara kakinya dirantai dengan sebuah rantai besi besar. Budak Manyor dihukum dengan berbagai hukuman. Pertama ia diperintahkan untuk membersihkan taman kerajaan: Budak Manyor menebangi segala pohon-pohon di dalam taman itu, hingga taman menjadi “bersih”  Baginda sangat murka, akan tetapi Lengser mengatakan, bahwa Budak Manyor tidak bersalah. Perintah rajalah yang tidak jelas. Kemudian raja memerintahkan agar Budak Manyor mengambil sapu sebanyak-banyaknya dari tempat menumbuk padi untuk dipergunakan dalam pekerjaan menyapu gedung kosong. Kata menyapu dalam bahasa Sunda biasa dikatakan nyapukeun (menyapu) atau nyapuan (memberi sapu). Malangnya, sang raja mempergunakan kata nyapuan. Budak Manyor bukannya membersihkan ruangan gedung kosong, melainkan mengisi gedung kosong itu dengan sapu sampai padat. Kemurkaan sang raja diluruskan oleh pendapat Lengser yang mengatakan bahwa Budak Manyor tidak bersalah. Akhirnya raja memerintahkan Budak Manyor untuk menjadi pemimpin gembala. Namun, setelah ternak dikeluarkan dari kandang, Budak Manyor justru memimpin mereka bermain-main dan bersenang-senang, hingga terjadilah kekacauan di kerajaan, karena ternak merusak sawah, ladang dan kebun orang. Akhirnya raja memutuskan bahwa Budak Manyor dihukum kubur hidup-hidup.
Tersebutlah di kerajaan lain, yaitu kerajaan Kuta Tandingan, yang memerintah adalah raja Raden Patih Dipati Layung Kumendung, yang punya adik cantik jelita, Agan Sumur Agung namanya. Kecantikan Agan Sumur Agung sangatlah terkenal, hingga berturut-turut sang putri mendapat lamaran dari raja negara Kuta Solaka yang bernama Patih Heulang Sangara, yang juga punya adik cantik jelita yang bernama Agan Raksa Kembang; kemudian dari raja Kuta Pandak yang bernama Raden geger Malela. Raja ini pun punya seorang adik putri yang rupawan, Agan sekar Malela namanya. Pelamar selanjutnya adalah Raden Patih gajah nyambung, raja dari Dayeuh Manggung Pasanggrahan Wetan. Raja ini melamar untuk putra beliau yang bernama Raden Patih Kuda Pamekas. Para pelamar tidak langsung diterima diterima lamarannya, karena putri Agan Sumur Agung mengajukan syarat, yaitu calon suaminya harus sanggup bertapa tujuh tahun di bawah pohon Kiara Jingkang  Dopang malang. Kecuali Raden Kuda Pamekas, pelamar-pelamar lain tidak sanggup memenuhi permintaan itu. Dengan demikian lamaran Raden Kuda Pamekaslah yang diterima. Yang lain terpaksa mengalah, namun dalam hati mereka bertekad bahwa pada hari perkawinan Agan Sumur Agung akan menyerangnya.
Sementara itu tersebutlah Pangeran Banyak Wide Ciung Manara Aria Rangga Sunten Prebu Ratu Galih, yang menjadi raja di Pajajaran. Putra raja yang kedua bernama Ratu Sungging Gilang Mantri,  seke senggeh Ranggalawe Aria Mangku Nagara, mendengar pula tentang kecantikan Agan Sumur Agung. Ketika Pangeran muda mohon ijin untuk pergi melamar, baginda berkeberatan melepas pangeran muda, berhubung Agan Sumur Agung telah bertunangan dengan Raden Kuda Pamekas. Namun raden sungging tidak taat kepada orang tuanya dan meloloskan diri di tengah malam dengan tekad untuk pergi melamar. Mendengar berita lolosnya pangeran, sang prabu bermuram durja dan bersabda: “Mengapa anak itu tidak mendengar nasihat orang tua ?, Niscaya ia mengalami kesulitan karena tidak mau mendengar kata-kata orang tua. Mengapa hanya mengikuti kehendak sendiri?”
Perkataan baginda terbukti jua. Raden Sungging melakukan perjalanan sukar, keluar masuk hutan. Di tepi sebuah sungai ia membuat perahu, lalu berlayar. Hujan lebat turun dan perahu itu dihanyutkan arus ke samudra luas. Raden Sungging tidak berdaya dan akhirnya pingsan.
Sunan Ambu di kahyangan mengetahui nasib putra Pajajaran tersebut, lalu memerintahkan kepada Budak Manyor untuk melakukan sesuatu, “Keluarlah anakku, engkau harus menolong putra Pajajaran yang sedang mengalami malapetaka di samudra luas. Pergilah segera, mengabdilah engkau padanya”.
Dari kuburannya Budak Manyor menembus bumi mendapatkan Raden sungging di tengah samudra. Perahu raden Sungging diseret ke pesisir dan raden Sungging diperciki air kehidupan. Raden Sungging terkejut ketika melihat Budak Manyor yang menolongnya, karena rupa Budak Manyor bukan saja buruk akan tetapi juga mengerikan. Namun setelah Budak manyor menjelaskan bahwa sebenarnya dia adalah dewata kemanusiaan yang ditugaskan menolong dan mengabdi kepada putra Pajajaran, Raden Sungging bukan saja lega, melainkan juga sangat bergembira. Segera saja Budak Manyor diminta bantuannya untuk mendapatkan Agan Sumur Agung.
Budak Manyor mencuri Agan Sumur Bandung dan membawanya ke hutan tempat Raden sungging menunggu. Ketika melihat satria yang tampan, Agan Sumur Agung mempernyaring jeritannya; Budak Manyor menyerahkan Agan Sumur Agung kepada Raden Sungging, yang disangka Sumur Agung sebagai penolongnya.
Di Kutatandingan terjadi kegemparan. Raja mengadakan sayembara, yaitu barangsiapa menemukan dan mendapatkan Agan Sumur Agung akan menjadi jodoh putri. Raja menyatakan, ia terpaksa mengadakan sayembara itu, karena tidak ada cara lain untuk menyelamatkan saudaranya itu, walapun saudaranya itu sudah dipertunangkan dengan Kuda Pamekas.
Ketika Raden Sungging dan Agan Sumur Agung datang di Kuta Tandingan, mereka disambut dengan meriah. Raden Sungging langsung dianggap pemenang saembara, dan tidak saja dinikahkan denganAgan Sumur Agung tetapi juga diangkat menjadi raja muda. Kedua peristiwa besar itu dipestakan selama tujuh hari tujuh malam.
Pesta dengan segala keramainnya terberita di kerajaan-kerajaan tetangga, seperti Kuta Salaka dan kuta Pandak. Datanglah raja-raja dan putra raja, yaitu Kuda Pamekas untuk mengajak berperang. Semua dikalahkan oleh Layung Kumendung, kakaknya Agan Sumur Agung dan oleh Budak manyor raja-raja taklukan itu berjanji untuk mengabdi.
Kemudian Budak manyor teringat akan saudara perempuannya, Si Genjru, ia mohon ijin kepada Raden Sungging untuk menjemput saudaranya itu di Kuta Haralang. Dengan kesaktiannya dibuatnya orang-orang Kuta haralang tertidur, lalu ia mengobrak-ngabrik kerajaan Kuta haralang. Segala harta kekayaan Kuta Haralang diangkut ke Kuta Tandingan, sedang yang ditinggalkannya hanyalah sebuah surat tantangan, yang diletakkan dekar raja Gajah Malang yang sedang tidur.
Sebelum kembali ke Kuta tandingan, Budak Manyor mengajak Si Genjru untuk berkunjung ke kahiangan. Di sana ia mohon kepada ibunda Sunan Ambu untuk disepuh (dilokat). Kedua bersaudara itu “dilokat” di dalam godogan timah, rajasa, kuningan, perunggu, besi, baja, perak, suasa, emas, intan, hingga mereka lebur di dalam campuran itu. Ketika mereka bangkit dari godogan, mereka menjadi satria tampan dan puteri jelita. Budak Manyor diberi nama Raden Patih Sutra kalang Panggung Aria Mangku Nagra, sedang Si Genjru diberi nama Nyimas Aci Wangi Mayang Sunda Purba ratna kembang. Setelah diberi nama, Sunan Ambu menitahkan mereka turun kembali ke Buana Panca Tengah. Setiba di Kuta Tandingan, mereka menjelaskan kepada raja bahwa mereka adalah yang semula Budak Manyor dan Si Genjru.
Aci Wangi kemudian dinikahkan dengan Raden Sungging, sedang Sutra Kalang Panggung menikah dengan Aci Haralang.
Patih dari Kuta Haralang, menemukan surat tantangan, lalu berangkat ke kuta Tandingan untuk menjawab tantangan itu. Tapi dia dikalahkan oleh Layung Kumendung, sedang raja Gajah malang yang menyusul patihnya, juga dikalahkan oleh Sutra Kalang Panggung. Setelah mereka dihidupkan kembali dari kematian, mereka berjanji untuk mengabdi.

Sumber cerita dari:
Ki Atjeng Tamadipura
Situraja Sumedang
1973